Pengobatan Kanker Prostat Banyak Meleset

Merry Wahyuningsih : detikHealth

detikcom – Jakarta, Salah satu penyakit yang ditakuti oleh kaum pria adalah kanker prostat. Tapi penanganan kanker prostat banyak meleset. Seringkali ditemui penanganan berlebihan (overtreatment) atau kurang penanganan (undertreatment).

Tidak adanya gejala yang khas pada jenis kanker ini menyebabkan sering terjadi keterlambatan diagnosis. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan multidisiplin untuk menghindari salah pengobatan karena pengobatan yang tepat saat ini hanya 30 persen.

Kasus kanker prostat telah meningkat dalam 10 sampai 20 tahun terakhir. Bukan saja di negara-negara maju, tetapi juga di negara sedang berkembang termasuk Asia.

Diperkirakan insiden kanker prostat di Indonesia sebesar 7 dari 100.000 penduduk. Data dari dua rumah sakit dengan pelayanan tersier di Jakarta melaporkan peningkatan hampir dua kali lipat dalam 6 tahun terakhir.

Tidak ada tanda atau gejala yang khas untuk kanker prostat, sehingga sering terjadi keterlambatan diagnosis.

Gejala atau tanda pada penderita kanker prostat sama seperti pada pembesaran prostat jinak (PPJ) atau prostatitis, yaitu berupa lower urinary tract symptoms (LUTS) atau retensi (penahanan terus-menerus) urin.

Keluhan lain dapat berupa hematuria (adanya sel darah merah dalam urine), hemospermia (adanya darah dalam sperma), nyeri tulang, dan gangguan sistem saraf. Dua keluhan terakhir dapat terjadi bila sudah ada penyebaran ke tulang belakang.

Gejala yang tidak khas dan keterlambatan diagnosis sering mengakibatkan terjadi overtreatment (penanganan berlebihan) atau undertreatment (kurang penanganan).

“Penanganan kanker prostat yang tepat hanya sebesar 30 persen, sedangkan selebihnya adalah overtreatment dan undertreatment,” kata Prof Dr Rainy Umbas, SpU (K), Ph.D, ahli urologi RSCM, disela-sela acara pengukuhannya sebagai Guru Besar Universitas Indonesia, di FKUI, Jakarta, Sabtu (24/4/2010).

Menurut Prof Rainy, persoalan overtreatment dikemukakan karena pemberian terapi definitif (terapi pasti) baik berupa operasi, radioterapi atau terapi hormonal akan menimbulkan beberapa hal negatif, seperti tambahan biaya, komplikasi, efek samping, morbiditas awal dan lanjut, penurunan kualitas hidup, serta kematian yang berhubungan dengan cara terapi.

Kebalikannya, pemberian terapi yang tidak bertujuan kuratif atau menyembuhkan pada penderita kanker dengan risiko tinggi atau mempunyai harapan hidup panjang dapat diartikan sebagai undertreatment.

Overtreatment dan undertreatment juga dapat terjadi karena kesalahan dalam menentukan stadium kanker secara klinis. Pada umumnya stadium ditentukan berdasarkan pemeriksaan colok dubur, yang memang merupakan pemeriksaan subjektif dan berpotensi untuk tidak tepat.

Kerjasama multidisiplin atau antar disiplin ilmu, khususnya yang terkait dengan pengobatan non-bedah, penunjang diagnosis, dan klinisi yang berhubungan dengan penanganan efek samping pengobatan akan sangat bermanfaat, khususnya untuk kepentingan penderita.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menghindari overtreatment dan undertreatment adalah memilih cara pengobatan secara individual dengan memperhatikan beberapa hal yang telah diutarakan dan juga mempertimbangkan keinginan penderita, sehingga dapat mencapat efek kendali kanker dan kualitas hidup yang optimal selama mungkin.