Sering Berubah Mood Berisiko Hipertensi

AN Uyung Pramudiarja : detikHealth

detikcom – Michigan, Seseorang yang sering mengalami perubahan ekstrem pada suasana hati (mood) sebaiknya berhati-hati. Sebab sebuah penelitian mengungkap, gangguan tersebut erat kaitannya dengan hipertensi.

Fluktuasi mood yang naik turun secara drastis merupakan ciri penderita gangguan bipolar. Pada fase depresi, penderita akan mengalami kesedihan yang luar biasa dan berubah menjadi euforia atau kegembiraan yang meluap-luap pada fase manik.

Penderita gangguan bipolar atau manik depresi cenderung akan mengalami tekanan darah tinggi (hipertensi) saat mengalami hiperaktivitas otak pada fase manik. Sebaliknya, semakin tinggi tekanan darah maka semakin ekstrem fase manik yang akan dialami.

Dikutip dari Sciencedaily, Senin (14/6/2010), penggagasnya adalah Dale D’Mello, seorang psikiater dari Michigan State University. Penelitian dilakukan dengan menganalisis 99 pasien bipolar yang dirawat di rumah sakit.

Dari hasil analisis, hampir 50 persen pasien bipolar mengalami hipertensi. Selain itu, semakin muda usia pasien saat didiagnosis bipolar, semakin besar pula risikonya untuk mengalami hipertensi.

Menurut D’Mello, keterkaitan ini dipicu oleh aktivitas otak berlebihan yang memicu stres dan meningkatnya pelepasan hormon norepinefrin pada fase manik. Hormon tersebut berfungsi untuk mengendalikan respon otak terhadap stres.

“Temuan ini menunjukkan bahwa dokter harus menangani hipertensi pada pasien bipolar dengan lebih agresif, sebab hipertensi terbukti bisa menyebabkan lesi otak. Jika tertangani lebih dini, maka hasil terapi pada gangguan bipolar akan lebih memuaskan,” ungkap D’Mello.

Penelitian yang dipresentasikan dalam rapat tahunan American Psychiatric Association’s 2010 di New Orleans ini rencananya akan dikembangkan untuk melihat hubungan jangka panjang. Para pasien akan terus diamati hingga periode tertentu, tidak hanya saat dirawat di rumah sakit.