Penyakit Infeksi Mempengaruhi Nilai IQ

Vera Farah Bararah : detikHealth

detikcom – Albuquerque, Penyakit infeksi yang terjadi seringkali menyebar secara cepat pada suatu daerah dan lebih sering menyerang anak-anak. Hal ini ternyata juga bisa berkaitan dengan rata-rata IQ dari penduduknya.

Christopher Eppig dan rekan-rekannya dari University of New Mexico, Albuquerque, menemukan bahwa penyakit infeksi yang tak terduga akan mempengaruhi kemampuan otak dari masyarakat di negara-negara termiskin di dunia. Sehingga beban suatu penyakit di suatu negara akan sangat terkait dengan rata-rata IQ penduduknya.

Untuk bisa membangun dan memelihara otak diperlukan 87 persen dari seluruh energi yang dimiliki oleh bayi baru lahir, dan sebesar 44 persen pada anak-anak berusia 5 tahun. Sedangkan untuk memerangi infeksi yang ada ditubuhnya juga membutuhkan energi dalam jumlah besar, sehingga anak-anak ini harus berjuang untuk melakukan keduanya pada waktu bersamaan.

“Peningkatan risiko terkena penyakit menular selama tahap-tahap perkembangan kritis bisa mempengaruhi tingkat IQ selanjutnya,” ungkap Eppig, seperti dikutip dari Newscientist, Selasa (6/7/2010).

Eppig dan tim mencocokkan tiga set perkiraan IQ pada orang sehat dari 192 negara. Berdasarkan data dari Badan kesehatan dunia (WHO) yang memperkirakan ada 28 negara dengan beban penyakit menular. Peneliti mendapatkan korelasi yang tinggi bahwa semakin banyak penyakit, maka semakin rendah IQ dari penduduknya.

Dalam Proceedings of the Royal Society B, DOI: 10.1098/rspb.2010.0973, dituturkan penyakit lebih erat kaitannya dengan IQ dibandingkan variabel lainnya yang juga diuji.

Perbedaan IQ diketahui berkorelasi dengan pendapatan ekonomi negara, pendidikan dan tingkat gizi. Tapi ketika variasi IQ diperhitungkan dengan penyakit, maka IQ tidak menunjukkan korelasi dengan faktor-faktor lainnya.

“Beberapa menyarankan bahwa IQ melonjak berkaitan dengan pendidikan yang lebih baik, tapi kami menemukan bahwa penyakit infeksi menular merupakan alat prediksi yang jauh lebih baik,” ungkap Eppig.

Eppig mengatakan pada negara-negara yang kaya, orang akan lebih berpendidikan dan memiliki nilai gizi yang lebih baik, sehingga kemungkinan untuk menjadi sakit akan semakin berkurang.

Pat Pridmore dari University of Sussex, Inggris mengatakan bahwa gizi buruk saat masa kanak-kanak dan penyakit yang pernah dideritanya berkaitan dengan nilai IQ yang lebih rendah.