Terperangkap di Tubuh yang Salah

Merry Wahyuningsih : detikHealth

detikcom – Buckinghamshire, Menjadi seorang transeksual tidaklah mudah dan harus rela mendapat banyak cemooh dari masyarakat. Tapi tak bisa dipungkiri, orang-orang tersebut juga merasa terperangkap di tubuh yang salah sebelum memutuskan untuk operasi ganti kelamin.

Salah satunya adalah Delia Johnstone, seorang transeksual asal Milton Keynes, Buckinghamshire. Sosoknya yang tinggi ramping, mengenakan rok blus nan cantik, ditambah dengan gaya rambut dan make up yang elegan, tak sepenuhnya membuat Delia diterima sebagai seorang wanita.

Delia yang kini berusia 55 tahun, terlahir dengan nama David. Tapi sejak masih anak-anak, ia selalu merasa terperangkap di tubuh yang salah, sebagai seorang laki-laki.

“Dari usia yang sangat muda, sekitar delapan tahun, saya tahu bahwa saya sangat berbeda dari anak-anak lainnya. Setiap kali saya bercermin, saya selalu benci dengan apa yang saya lihat di cermin. Tapi saya tidak tahu mengapa saya merasa seperti itu,” tutur Delia, seperti dilansir dari Independent, Senin (23/8/2010).

Menurut Delia, neneknya adalah satu-satunya orang yang menyadari ada sesuatu yang salah pada dirinya. “Kamu bukanlah dirimu yang sebenarnya, itu yang selalu ia katakan, tapi saya tak tahu mengapa,” jelas Delia.

Delia mengaku, tidak mengerti mengapa ia sangat suka menyelinap ke kamar kakak perempuannya dan mencoba baju-baju di lemari kakaknya tersebut.

Delia kecil alias David, juga harus berjuang dengan disleksia (ketidakmampuan untuk membaca dan mengeja) yang tidak terdiagnosis. Ia frustasi karena dicap bodoh oleh guru-gurunya yang tidak mengerti dengan kondisi yang dideritanya.

Berbeda dengan teman-temannya, ditambah lagi dengan perasaan ‘serba salah’ membuat David memberontak dan berkelakuan buruk. Dia dikeluarkan dari sekolah dan dikirim ke sekolah asrama putra khusus bagi anak nakal.

Baru sejam setelah diantar oleh orangtuanya ke sekolah asrama tersebut, David sudah diserang dengan pisau berbentuk balpoin oleh siswa penghuni asrama.

“Kekerasan memang menjadi ciri khas kehidupan sehari-hari di sekolah itu, tapi hal itu mengajarkan saya untuk mampu melindungi diri sendiri,” kenang Delia.

Dengan kondisi yang ada di sekolah tersebut, ia berharap dapat terbangun dari tidur dengan perasaan normal sebagai laki-laki, tapi ternyata hal tersebut tidak terjadi.

Suatu hari, ketika David ditinggal sendiri di rumah selama seminggu oleh orangtua dan saudara-saudaranya, ia menghabiskan waktunya berpakaian sebagai wanita.

“Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasa santai dan merasa bahwa itu adalah benar-benar saya. Saat itulah saya menyadari semuanya,” ungkap Delia.

Dengan usianya yang terus bertambah, David semakin merasa frustasi. Dan ketika berusia 20-an tahun, ia menemukan bahwa ia bukanlah satu-satunya orang yang merasa ‘terperangkap’ seperti ini.

Tapi ia juga menemukan bahwa orang-orang sepertinya akan selalu dicap aneh, menyimpang dan juga dihantui rasa malu yang luar biasa. Ia kemudian memutuskan untuk menerima bahwa ia berada di tubuh yang salah.

David menikah dan memiliki dua anak, tapi hidupnya sebagian besar terbuang dalam kepura-puraan.

“Saya pikir dulu saya jatuh cinta, saya ingin jatuh cinta. Tapi sekarang saya sadar, perasaan itu hanyalah karena saya ingin memiliki teman,” jelasnya.

David menikah di St Lucia, di pantai yang indah dan sangat romantis. Ketika ia menatap mata calon istrinya dan mengatakan sumpah, ia tahu bahwa ia sedang berbohong. Tapi ia tak punya pilihan.

“Saya sangat berjuang dalam kehidupan seks kami. Saya dulu mencoba apapun untuk menghindari berhubungan seks, tapi tetap saja kami memiliki dua anak, putra dan putri,” tutur Delia.

David akhirnya bercerai dengan istrinya dua tahun yang lalu dan anak-anak memutuskan untuk tinggal bersamanya. Beruntungnya, David sangat menyayangi anak-anaknya.

“Pada September tahun lalu, setelah anak-anak mulai memasuki bangku kuliah, hal-hal aneh mulai masuk ke kepala saya. Saya sampai di titik di mana saya sudah tidak bisa lagi tinggal di tubuh yang salah itu. Tapi saya juga tahu bahwa orang yang memilih untuk menjadi transeksual akan kehilangan semuanya, pekerja, keluarga dan semua kehidupan saya,” ujar Delia.

David saat itu sadar bahwa bila ia egois mengikuti kemauannya, pasti akan menakutkan bagi anak-anaknya. Tapi ia sudah tidak sanggup untuk bertahan lebih lama lagi sebagai seorang laki-laki.

David sempat merencanakan bunuh diri dengan cara yang sangat cermat. Tapi di menit-menit terakhir, ketika ia sudah mulai mengencangkan ikatan tali di lehernya, ia sadar bahwa ada cara lain yang mungkin bisa berhasil untuk dapat membuat anak-anak menerima kondisinya.

Kejadian itu akhirnya memicu David untuk membeli obat hormon wanita di internet. Dan tiga bulan kemudian, tepatnya bulan Desember 2009, ia memiliki keberanian untuk mengunjungi dokter.

Dengan obat hormon tersebut, kulitnya menjadi halus dan mulus, ia pun tampak 10 tahun lebih muda dari usia sebenarnya.

“Obat itu bertindak lebih cepat daripada yang saya pikirkan. Dan setelah tiga bulan, anak-anak libur dan kembali ke rumah. Saat itu, payudara saya sudah mulai tumbuh meski tidak begitu besar. Dan saat itu saya rasa sudah saatnya memberi tahu anak-anak,” kenangnya.

Delia tahu bahwa ketika David memberi tahu anak-anak tentang sesuatu yang penting, anak-anak akan mengira bahwa ia gay. Putrinya menolak untuk bertemu dengannya, namun putranya menerima berita itu dengan sikap tabah yang wajar dan pergi untuk memberitahu adiknya.

Delia menuturkan, sikap kedua anaknya sekarang menunjukkan bahwa mereka masih berjuang, namun anak-anaknya tersebut tetap mendukung dan menyayanginya.

Dan sejak 1 Januari 2010, David memutuskan untuk melakukan operasi ganti kelamin dan mengganti namanya dari David Francis Johnstone menjadi Delia Frances Johnstone.

Delia kini hidup dan berpakaian sebagai seorang wanita. Ia juga terus mengonsumsi obat hormon wanita dan melakukan suntik setiap tiga bulan sekali untuk menekan hormon laki-lakinya.