Nyamuk Malaria Bermutasi Jadi 2 Jenis yang Makin Berbahaya

Merry Wahyuningsih : detikHealth

detikcom – London, Ketakutan meningkatnya kasus kematian karena malaria menciptakan masalah baru di Afrika. Hal ini karena jenis nyamuk paling berbahaya pembawa malaria kini telah bermutasi dan berkembang menjadi dua jenis yang berbeda.

Para ilmuwan telah menemukan bahwa Anopheles gambiae, yang tersebar luas di Afrika dan telah membunuh hingga 2 juta orang setiap tahun, telah bermutasi menjadi dua jenis genetis yang berbeda dan menjadi spesies yang berbeda pula.

Nyamuk Anopheles gambiae yang bermutasi ini terdiri dari 2 strain yang disebut dengan ‘M’ dan ‘S’. Dr Mara Lawniczak dari Imperial College London mengatakan bahwa kedua strain nyamuk ini benar-benar berbeda secara genetik, sehingga tidak bisa diatasi hanya dengan metode yang biasa.

Adanya perbedaan genetik dan jenis nyamuk tersebut menambah kesulitan pada usaha pemberantasan dan pengendalian malaria. Strategi yang sebelumnya diarahkan untuk satu jenis nyamuk menjadi tidak efektif lagi.

“Dari studi baru ini, kita dapat melihat bahwa nyamuk berkembang lebih cepat dari yang kita duga. Sayangnya, strategi yang bekerja melawan satu strain nyamuk mungkin tidak efektif terhadap nyamuk yang lain,” ujar Dr Mara Lawniczak dari Imperial College London, seperti dilansir Independent, Jumat (22/10/2010).

Dr Lawniczak dalam jurnal Science menjelaskan bahwa studi ini dapat membantu untuk memahami susunan nyamuk yang menularkan malaria, sehingga ilmuwan dapat menemukan cara-cara baru untuk mencegah nyamuk menginfeksi manusia.

Menurut Dr Lawniczak, kemungkinan strain ‘S’ adalah spesies nenek moyangnya karena ditemukan di seluruh sub-Sahara Afrika, sementara strain ‘M’ terkonsentrasi di Afrika tengah dan barat.

Strain ‘S’ lebih suka berkembang biak di kolam dan genangan air, sementara strain ‘M’ tampaknya telah beradaptasi dengan sangat baik karena mampu bertelur di habitat irigasi seperti sawah. Strain ‘M’ bahkan mampu mengeksploitasi area yang cenderung kering dan musim yang kering, sehingga menyebabkan penyebaran malaria semakin berkembang.

Malaria disebabkan oleh parasit darah mikroskopis yang ditularkan dari gigitan nyamuk betina, yang membutuhkan makan darah untuk menghasilkan telurnya. Dari 500 juta orang yang terinfeksi malaria setiap tahun, sekitar 2 juta orang meninggal akibat penyakit tersebut.