Paliatif Bukan Hanya Perawatan untuk Pasien Menjelang Ajal

Merry Wahyuningsih : detikHealth

detikcom – Jakarta, Perawatan paliatif biasanya dilakukan di akhir masa pengobatan setelah dokter ‘angkat tangan’ menangani pasien dengan penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Tapi kini paliatif dilakukan tak hanya untuk pasien stadium akhir, melainkan sejak awal penyakit terdiagnosa.

Perawatan paliatif artinya meringankan penderitaan si pasien yang sudah sakit parah dan tidak dapat disembuhkan seperti kanker, AIDS, diabetes atau gagal organ. Tujuannya agar penderita kanker dapat menjalani hari-hari terakhirnya dalam keadaan senang.

Perawatan paliatif merupakan metode yang ampuh dalam membantu pasien lepas dari penderitaannya, baik nyeri berkepanjangan ataupun keluhan lain. Kondisi ini akan membantu meningkatkan kualitas hidup pasien dan juga keluarganya.

Pada awalnya, perawatan paliatif hanya ditujukan bagi pasien yang dikategorikan sebagai ‘lost case’, yaitu pasien stadium terminal, pada saat semua cara pengobatan untuk mengatasi penyakit primer sudah tidak dapat lagi diberikan.

Namun dengan definisi yang baru oleh WHO, perawatan paliatif seharusnya diberikan lebih awal, yaitu ketika pasien mengalami progresifitas penyakit dan mengalami keluhan.

Bahkan pada kasus tertentu, paliatif diperlukan pada saat pasien baru didiagnosa penyakit yang mengancam jiwa dan diberikan bersamaan dengan pengobatan penyakit yang ada.

“Sejak pasien terdiagnosa penyakit yang mengancam jiwa, perawatan paliatif seharusnya sudah mulai diberikan, karena kita sudah tahu apa yang akan terjadi nantinya, seperti nyeri atau keluhan lain selama pengobatan,” jelas Prof Dr dr Angela Bibiana Maria Tulaar, SpKFR(K), Guru Besar FKUI dalam acara Seminar World Hospice and Palliative Care Day 2010 di RS Kanker Dharmais, Jakarta, Kamis (28/10/2010).

Selama pengobatan (misalnya kanker) pasien sering mengeluhkan nyeri, gangguan saluran cerna (mual, muntah, diare, konstipasi), gangguan kulit (gatal, kering atau akibat berbaring terlalu lama), kelemahan umum, gangguan respirasi, kelemahan anggota gerak, gangguan saluran kemih dan juga merasa bingung.

Nah, dengan perawatan paliatif keluhan pasien bisa berkurang dan pasien juga diajak untuk lebih bisa menerima keadaannya, sehingga masih bisa menjalani hidupnya meskipun umurnya tak lama lagi. Hal ini karena kebanyakan kualitas hidup pasien dengan penyakit tak bisa disembuhkan akan terus memburuk atau menurun jika harapan pasien tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.

“Sampai saat ini, pasien kanker dengan stadium lanjut merupakan pasien terbanyak yang ditangani oleh tim paliatif. Tapi sebaiknya perawatan paliatif diberikan sejak awal diagnosa agar pengobatan pun menjadi lebih efektif,” tambah Dr Maria Astheria Witjaksono, MPALLC (FU), Kepala Unit Paliatif RS Kanker Dharmais.

Menurut Dr Maria, tim paliatif akan memberikan ‘telinga’ untuk pasien dan keluarganya. Tim juga akan mendengarkan segala keluhan yang dirasakan, agar semua beban pikiran dan penderitaan dapat diselesaikan dan proses kematian dapat disikapi dengan baik.

“Perawatan paliatif bukan untuk menunda kematian tetapi memberikan kesempatan pada pasien sakit parah meninggal dengan rasa tidak tersiksa. Bila proses kelahiran dipersiapkan dengan baik dan sukacita, maka proses kematian pun harus dipersiapkan dengan baik dan dalam keadaan senang,” kata Dr Maria.