Junk Food Sumber Depresi


Liputan6.com, Jakarta: Bagi Anda penyuka makanan cepat saji atau junk food, berhati-hatilah. Soalnya, menurut The British Journal of Psychiatry, makanan cepat saji atau junk food berkontribusi besar untuk membuat kita lebih cepat stres bahkan sampai depresi dibanding makanan sehat.

Kesimpulan itu didapat setelah mengamati pola konsumsi dari 3.486 orang yang rata-rata berusia 55 tahun. Responden yang terdiri dari pria dan wanita ini, diminta mengisi kuisioner mengenai berapa banyak makanan yang mereka konsumsi setiap hari.

Tak hanya itu, mereka juga diminta untuk menyebutkan berapa kali makan makanan kemasan dalam sehari. Rentang ukuran yang diberikan untuk makanan kemasan adalah tidak pernah sampai enam kali sehari.

Dari data yang terkumpul, kemudian dibagi dalam beberapa identifikasi. Pertama adalah identifikasi pola konsumsi makanan yang diproses dengan benar. Tolok ukurnya, berapa kali dalam sehari responden mengonsumsi sayuran, buah-buahan, dan ikan. Kedua adalah makanan yang proses pengolahannya tidak sehat dan umumnya diartikan sebagai makanan kemasan. Untuk jenis makanan ini karakteristiknya adalah memiliki kadar gula, lemak, dan kalori yang tinggi. Jenis makanan yang paling sering masuk dalam karakteristik itu adalah makanan-makanan cepat saji yang digoreng.

Selama lima tahun, semua responden diamati dengan menjawab kuisioner yang diberikan sambil diamati gejala depresi yang muncul yang dibandingkan dengan kondisi populasi secara umum. Hasilnya, mereka yang mengonsumsi makanan sehat sangat kecil kencenderungannya untuk mengalami depresi. Sedangkan makanan kemasan yang kadar gula dan lemaknya tinggi, membuat tubuh kita jadi lebih lemah.

“Penelitian ini sangat komprehensif karena kami melakukannya pada responden yang besar dengan faktor sosio-demografis yang luas,” kata Tasnime Akbaraly, PhD., ketua penelitian dari National Insitute of Health and Medical Research.

Arkbaraly juga menjelaskan, seluruh responden diamati faktor-faktor yang memengaruhi status kesehatannya, mulai dari kebiasaan merokok, intensitas aktivitas fisik, hingga indeks massa tubuh. “Ternyata faktor-faktor tersebut tidak serta merta memengaruhi munculnya gejala depresi. Ini berbeda jauh dengan pilihan makanan yang mereka konsumsi.”

Itu mengapa, di akhir kesimpulan penelitiannya, Arkbaraly menyarankan agar kita mengurangi konsumsi makanan kemasan, makanan yang nilai lemak dan gulanya tinggi. “Lebih baik perbanyak buah, sayuran, dan ikan, karena makanan-makanan ini tak memicu terjadinya depresi pada para responden yang kami amati.”(http://www.preventionindonesia.com/ULF)